Kerukunan Lintas Agama

Tema                           : Toleransi Agama

Penokohan                  :

1.      Asep                (agama islam, warga komplek Bhineka)

2.      Alfred             (agama kristen, warga komplek Bhineka)

3.      Kadek             (agama hindu, warga komplek Bhineka)

4.      Pak Kyai         (Kyai di komplek Bhineka)

5.      Pendeta           (Pendeta di komplek Bhineka)

6.      Freya               (Sabar, baik hati, warga komplek Bhineka)

7.      Hana                (Sensitif, baik, warga komplek Bhineka

8.      Crista               (Blak-blakan, warga komplek Bhineka)

9.      Bu Bonar         (agama Kristen, warga komplek Bhineka)

10.  Bu Ajeng         (agama islam, warga komplek Bhineka)

11.  Pak RT            (bijaksana, ketua RT di komplek Bhineka)

12.  Bu RT            

13.  Ibu

14.  Abi

Latar/setting                : Kompleks Bhineka

Alur                             : Maju

Sudut Pandang           : Orang Ketiga Serba Tahu

 

Ramadhan tinggal menghitung hari. Ragam tradisi di masyarakat dalam menyambut bulan Ramadhan. Salah satunya tradisi bersih-bersih dan makan bersama. Hal tersebut dilakukan oleh warga kompleks Bhineka. Terdiri dari berbagai pemeluk agama tidak membuat warga kompleks Bhineka menjadi sumber perselisihan. Perbedaan kepercayaan tak menyurutkan warga kompleks Bhineka untuk tetap hidup harmonis, saling menghargai, dan meningkatkan tali silaturahmi. Karena bagi mereka perbedaan itu adalah anugerah dari Tuhan, perbedaan itu indah.

Terlihat sejumlah orang terlihat asyik bercengkrama di poskamling. Di antara mereka ada Asep, Alfred, dan Kadek. Masing-masing dari mereka beragama Agama Islam, Kristen, dan Hindu. Tidak ada sekat, mereka mengobrol tanpa memandang agama masing-masing. Sesekali mereka tertawa dengan obrolannya sendiri. Sikap yang akrab tercermin di antara mereka. Hidup harmonis dalam keberagaman memang sudah mengakar.

Tidak jauh dari poskamling, berdiri bangunan Masjid yang digunakan untuk tempat beribadah umat islam. Tidak jauh lagi sekitar 10 meter berdiri bangunan gereja yang digunakan untuk beribadah umat kristen. Kemudian setelahnya, sekitar 40 meter berdiri bangunan pura yang digunakan oleh warga pemeluk Agama Hindu untuk menjalankan ibadahnya. Bisa ditebak tingkat toleransinya sangat tinggi.

Semua tokoh keagamaannya sangat kompak. Selama Ramadan mereka saling mendukung. Mereka juga memiliki budaya saling berkunjung ke kerabatnya meski berbeda keyakinan. Tidak ada fanatisme yang berlebih pada setiap penganut agama. Sekalipun ada acara keagamaan masing-masing pun semua berjalan dengan baik. Tidak hanya saat Ramadhan saja, tetapi semua kegiataan keagamaan. Semua dilakukan dengan gotong-royong. Semua warga saling mengajarkan kerukunan serta saling menghormati satu sama lain.

Sore hari menjelang Ramadhan biasanya ibu-ibu bagian masak di dapur, sedangkan bapak-bapak bersih-bersih kompleks.

“Bu Ajeng, ini makanan untuk bapak-bapak taruh dimana?” Tanya Bu Bonar.

“Depan rumah bang Asep aja bu. Biasa disitu bapak-bapak ngumpul” jawab bu Ajeng.

Mereka saling tolong menolong. Tidak membedakan agama lain. Jika salah satu perlu bantuan ya ditolong. Solidaritas yang sangat tinggi.

“Sep, kamu, Alfred dan Kadek bersihin area gereja sama pura juga ya.” Suruh Pak Kyai.

“Siap pak.” Jawab serentak.

Setelah selesai bersih-bersih mereka menyantap hidangan yang telah dimasak ibu-ibu kompleks. Sambil mengobrol dan tertawa bercampur jadi satu.

“Wah enak sekali ya makanannya.” ucap Alfred.

“Ibu-ibu komplek kita memang jago-jago masak Al.” ucap Pak RT sambil menikmati hidangannya.

Setelah menikmati hidangan yang sudah disediakan, lalu mereka membereskan kembali dengan saling gotong royong sampai bersih.

            Pagi harinya warga umat Islam menjalankan ibadah wajibnya yaitu berpuasa. Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB.

“Sahurrr…sahurrrrrr” terdengar suara orang yang membangunkan sahur.

Hana dibangunkan ibunya untuk sahur.

“Hana ayooo bangun..sahur…kak Freya dan Abi sudah di meja makan loh.”

“Iya….bu.” jawabnya sambil mengucek mata mengecek jam wekernya.

Mereka sangat menikmati sahur bulan ramadhan kali ini dan mereka juga sangat bersyukur karena di bulan ramadhan kali ini masih bersama keluarganya yang lengkap.

            Setelah selesai sahur, Hana dan Freya sholat subuh kemudian bergegas mandi untuk siap-siap berangkat ke sekolah. Hana dan Freya biasanya berangkat sekolah jalan kaki karena sekolahnya tidak terlalu jauh, kadang juga diperjalanan menuju ke sekolah mereka bertemu teman-temanya jadi pada saat diperjalanan tidak terasa. Sesampainya di sekolah Hana terlihat lesu dan mengantuk karena ini adalah puasa hari pertama jadi masih belum terbiyasa. Didepan mejanya duduk Crista sambil meneguk botol minumnya. Tiba-tiba Hana marah-marah pada Crista. Kemarahan ini diakibatkan karena Crista meneguk air di botol di siang hari pada bulan puasa. Hana marah, lantaran walaupun ia tahu Crista berbeda agama dengannya, menurutnya tak seharusnya Crista minum di depannya seperti itu. Mereka lalu bertengkar.

“Kau seharusnya toleransi dong Cris! Kan hari ini temanmu puasa, mana cuaca panas lagi!” teriak Hanna.

“Loh kenapa memangnya? Sah-sah saja dong aku minum di jam segini karena aku tak berpuasa!” Jawab Crista.

Hana kesal mendengar jawaban Crista. Keduanya sampai tak memutuskan untuk saling tak menegur sampai hari esoknya. Tapi sejujurnya sebenenarnya mereka menganggap pertengkarannya hanya kesalahpahaman saja.

            Malam harinya, setelah pulang terawih Hana pergi ke ruang tamu. Disana ada Abi, Ibunya, dan kak Freya. Dengan wajah murung ia bercerita.

“Bi. Aku kesal sekali dengan Crista!”

“Eh kenapa dengan anak Abi?”

“Masa Crista minum didepanku saat aku berpuasa. Kan tidak toleransi namanya ya, Bi.” Cerita Hana sambil cemberut.

Abinya tersenyum kemudian menjawab “Hana, Abi tau memang orang yang makan atau minum didepan orang berpuasa kurang baik. Tapi Hana juga tidak boleh menegur dengan cara itu. Apabila orang berpuasa merasa terganggu dan merasa menjadi ingin makan maka Allah akan mengijabahi mereka, ikut-ikutan akan dibenci oleh Allah.” Jelasnya Abi pada Hanna.

Mendengar nasehat dari Abinya, Hana menduduk dan memikirkan nasehat Abinya tadi. Setelah itu Hana bergegas menuju kamarnya. Kemudian kak Freya menghampiri Hana untuk mengajak ngobrol. “Han sebaiknya kamu menegur dengan cara baik. Ucapkan kata maaf terlebih dahulu. Bisa jadi Crista tidak tahu.” Jelas kak Freya. “iya kak. Besok Aku minta maaf pada Crista karena telah memarahinya sambil mengatakan tidak toleransi. Padahal aku sendiri juga tidak toleransi padanya.” jawab Hanna. Ibunya tersenyum melihatnya.

Pagi harinya Hana bertemu lagi dengan Crista. Keduanya masih belum mau memulai obrolan. Kemudian Hana dengan mantap berani memula obrolan dengan Crista.

“Crist…” sambil menarik bangku mendekat ke Crista.

Crista kemudian menengoknya.

Dengan wajah menduduk Hanna mengatakan, “Crist… aku minta maaf soal sikapku kemarin, aku mengaku salah karena tidak seharusnya bicara begitu padamu. Maafkan aku ya Crist.” jelasnya sambil wajah memohon pada Crista.

Crita yang mendengar kemudian tersenyum.

“Kurasa aku bodoh, karena telah mengatakan yang tidak-tidak padamu. Kenapa aku harus melarangmu minum? Seharusnya jika memang aku ikhlas menjalankan puasa ini, tak seharusnya aku tergoda jika melihatmu meneguk air. Bukan malah menyalahkanmu. Maafkan aku ya Crist.” tambah Hana.

“Iya Han. Tidak apa-apa. Bukan sepenuhnya salahmu kok, aku juga merasa salah karena minum di depanmu yang sedang puasa. Tidak seharusnya begitu ya. Aku berjanji sebisa mungkin tidak terlihat saat minum atau makan. Maafkan aku juga ya Han.” Jawab Crista sambil berkaca-kaca.

“Iya Han. Sekarang aku sadar kalau puasa bukan hanya menahan haus dan lapar tetapi benar-benar juga ikhlas saat melakukannya.” Jawab Hana tersenyum.

“Han. Pulang bareng yuk nanti!” ajak Crista pada Hana.

“Ayo Crist!” jawab Hanna bergembira.

            Sekarang mereka sadar bahwa toleransi sesama manusia itu sangat penting. Karena hanya toleransi, yang bisa menerima perbedaan. Apalagi dalam hidup ini, selalu ada perbedaan. Harus ada toleransi, dalam setiap perbedaan.

Tidak terasa lebaran tinggal menghitung hari lagi. Umat islam sudah tidak sabar lagi menunggu hari besar itu. Sekolahpun sudah libur. Menjelang hari besar setiap umatnya, komplek Bhineka selalu rutin mengadakan acara. Seperti menjelang lebaran khususnya untuk umat islam kegiatan komplek bermacam-macam seperti, membuat kue kering secara bersama, membersihkan masjid sebelum ramadhan maupun menjelang lebaran, dan tidak lupa kerja bakti setiap seminggu sekali. Komplek Bhineka tidak hanya dikenal dengan toleransinya yang tinggi namun komplek Bhineka juga dikenal sebagai komplek yang bersih dan selalu ramai akan kegiatan-kegiatan yang diselenggaraknnya. Mengingat komplek Bhineka tidak hanya warga islam saja namun banyak non muslim warganya jadi ketua RT sangat adil terhadap warganya. Hal itu juga warga komplek Bhineka sangat menerima dan mendukung apa yang membuat baik untuk warganya.

Keesokan harinya komplek Bhineka mengadakan kegiatan membuat kue kering yang diadakan di salah satu rumah warganya. Semua berkumpul dan mulai membuatnya. Sebelumnya Ibu-ibu sudah membeli keperluan yang akan dipakai. Kegiatan ini bermaksud agar warga komplek Bhineka saling kompak dan mempererat toleransi yang ada. Kue kering yang akan dibuat seperti nastar, putri salju, castengel, dan kue-kue lebaran pada umumnya. Tidak hanya ibu-ibu saja yang terlibat pada kegiatan tersebut anak-anak perempuan seperti Hana, Freya, dan Crista juga ikut.

“Hana tolong aduk adonan ini ya, ibu mau mengambil cetakan-cetakan di dalam.” Ucap Bu RT.

“Baik Bu.” Jawab Hana.

“Freya sama Crista tolong ini dibersihkan ya toples dan tempat-tempat loyangnya.” Ucap Bu Ajeng.

“Baik Bu.” Jawab Freya dan Crista.

Tidak hanya kegiatan Ibu-ibu tetapi juga para bapak-bapak lainnya dan remaja-remaja komplek juga tidak hanya berdiam ataupun tidak ada aktifitas, melainkan Bapak-bapak dan remaja putra bahu membahu kerja bakti membersihkan selokan merapikan tanaman di jalan-jalan komplek dan membuat hiasan-hiasan yang identic dengan Hari Raya Idul Fitri. Tak haya itu remaja-remaja putra dan putri beberapa ada yang membuat ketupat dengan remaja putra memetik janur dan sebagian ada yang membantu remaja putri. Mereka sangat antusias dalam menjalani kegiatan rutin di kompleknya.

“Bagaimana teman-teman ada kendala dibagian pembuatan ketupat?” Tanya Pak RT.

“Tidak Pak RT, kami sangat menikmati dan saya juga jadi tahu ternyata proses pembuatan ketupat ini cukup mudah.” jawab Alfred.

“Iya Pak, lagian dengan kegiatan ini puasa yang jadi tidak terasa.” ujar Asep.

“Bagus. Memang kegiatan ini bermaksud baik agar yang tidak tahu menjadi tahu dan bagi yang berpuasa menjadi tidak terasa.”

“Hehe iya Pak.” jawab kompak remaja putra dan putri.

Setelah itu Pak RT melanjutkan pengecekan ke para Bapak-bapak dank e para Ibu-ibu. Sepertinya semua kegiatan berjalan baik dan tidak ada kendala apapun. Hari semakin sore semua kegiatan sudah selesai dan semua warganya telah pulang ke rumah. Yang tidak berpuasa menjalankan aktifisnya di rumah dan yang sedang berpuasa menyiapkan hidangan menu buka puasa.

Kumandang adzan telah terdengar saatnya berbuka bagi umat islam di komplek Bhineka. Dirumah Hana seperti biasa menyantap hidangan berbuka yang telah disiapkan oleh ibu dengan nikmat.

“Bi, Hana senang sekali tinggal di komplek ini, ternyata warga-warga sini sangat baik sekali walaupun kita berbeda keyakinan.” ucap Hana dengan wajah senang.

“Iya Han, dulu kan Abi sudah pernah bilang di komplek kita ini orang-orangnya berbeda.” jawab Abi.

“Hana piker dulu waktu kita pindah di komplek ini Hana akan sedih karena nanti pasti Hana tidak punya teman, dan pasti komplek kita ini juga akan sepi karena pasti warganya banyak sekali yang non muslim. Ternyata pandangan Hana salah disini malah kebalikannya makanya Hana sangat betah tinggal di sini.” ucap Hana.

“Tidak semua pikiran kita buruk kita benar Hana, jika kita selalu berfikir positif dan mau menerima keadaan ini pasti semua akan baik-baik saja, buktinya sekarang malah Hana senang kan.” ucap ibu sambil tersenyum mgusap-usap rambut Hana.

“Iya bu hehe.” jawab Hana sambil tersenyum.

Setelah menikmati hidangan buka puasa, Hana dan kakanya serta orangtuanya menuaikan sholat magrib dan setelah itu adzan isya mereka bergegas ke masjid untuk sholat isya dan tarawih.

Paginya setelah sahur Hana mendengar percakapan Abi dan Ibu mengenai orang baru yang akan tinggal dikompleknya ini. Karena Hana sangat penasaran maka Hana memberanikan diri bertanya kepada Abi dan Ibu tentang orang baru itu. Namun ternyata Abi sedang rapat di tempat Pak RT, jadi Hana menanyakannya pada ibunya.

“Ibu, Hana ingin menanyakan sesuatu pada ibu?” tanya Hana sambil duduk bersama Ibunya di depan teras.

“Iya Han, mau tanya apa?” jawab ibu sambil tersenyum.

“Hana tadi pagi tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Abi dan Ibu soal orang baru yang akan tinggal di komplek kita ini, memangnya benar ya bu?”

“Oh itu, iya Hana itu benar, memangnya kenapa?” tanya Ibu.

“Hana penasaran saja dengannya Bu.” jawab Hana.

“Kata Abimu mereka berasal dari Sumatra dan lagi-lagi mereka non islam.” jawab Ibu.

“Oh gitu ya Bu, semoga mereka baik sama seperti warga-warga lainnya.” ujar Hana,

“Iya Hana.” jawab Ibu.

Setelah itu mereka melanjutkan mengobrol sambil menikmati suasana damai di kompleknya. Beberapa jam kemudian Abi pulang dari rapatnya, lalu Abi menyampaikan hasil rapatnya.

“Komplek kita sudah ada warga baru sekarang mereka berasal dari luar jawa, agamanya kristen.” ujar Abi.

“Orangnya bagaimana Bi?” tanya Freya.

“Seperti orangnya keras, karena mereka berasal dari luar jawa jadi berbeda dengan kita.” jawab Abi.

“Yasudah sebaiknya kita berjaga-jaga jangan sampai membuat mereka tidak nyaman.” ujar Ibu.

“Baik Bu.” jawab Hana.

Lebaran tinggal menunggu besok. Semua warga umat islam komplek Bhineka sibuk menyiapkan persiapan untuk menyambut hari besar itu. Warga non muslim lainnya juga ikut membantu saling tolong-menolong kepada umat islam yang akan menyambut lebaran. Namun hanya warga baru saja yang tidak pernah menampakan, mereka selalu berdiam diri dirumahnya, padahal di komplek Bhineka selalu ramai karena warganya senang berkumpul. Malam takbiran telah tiba semua warga komplek Bhineka ikut meramaikan dengan menyalakan kembang api dan takbir keliling mengelilingi rumah-rumah dan antar komplek. Setelah takbir keliling semua berkumpul dan makan bersama di depan masjid. Salah satu warga komplek Bhineka yaitu Kadek bermaksud mengajak warga barunya itu untuk berkumpul bersama, lalu dia berkunjung ke rumah warga baru tersebut dan bermaksud baik. Namun Kadek diusir malah diusir oleh warga baru itu.

“Permisi permisi” ujar Kadek di depan pintu rumah warga baru.

“Ya siapa, ada apa!” jawab warga baru tersebut.

“Permisi Pak, saya Kadek disini saya bermaksud untuk mengajak Bapak serta keluarga Bapak untuk ikut berkumpul di depan masjid karena ada acara makan-makan bersama.” ucap Kadek sambil tersenyum dan sopan.

“Tidak perlu, saya bersama keluarga saya tidak merayakan itu, lagi pula kegiatan itu malah menganggu kami, berisik!” ucap warga baru.

“Maaf Pak, sebelumnya memang komplek kita sudah rutin mengadakan kegiatan tersebut pada setiap perayaan-perayaan hari besar, lagi pula di komplek kita kan berbeda-beda agama makanya kami sangat menghargai dan saling menjaga satu sama lain.” jawab Kadek.

“Itu bukan urusan saya, lagi pula buat saya itu tidak penting, lebih baik anda pergi jangan ganggu kami lagi”

Tidak berpikir panjang Kadekpun langsung pergi menuju masjid. Kadek masih kaget dengan kejadian yang menimpanya barusan. Setelah sampai di masjid Kadek akan melaporkan kejadian tersebut kepada Pak RT. Tidak lama Kadek telah melihat Pak RT yang sedang duduk di dalam masjid, lalu Kadek langsung menghampirinya.

“Pak, boleh bicara sebentar?” ucap Kadek.

“Kadek, bagaimana warga baru itu mau bergabungkan?” tanya Pak RT.

“Itu yang mau saya bicarakan Pak.” ucap Kadek.

“Memangnya bagaimana, kok muka kamu keliatannya muram.” tanya Pak RT.

“Saya diusir sama warga baru itu Pak.” jawab Kadek.

“Loh kenapa bisa begitu?” tanya Pak RT.

“Katanya kegiatan ini tidak penting dan mereka gamau merayakan. padahal saya sudah ngomong baik-baik dan sopan.” jawab kadek.

Mendengar informasi tersebut Pak RT merenung dan berfikir. Lalu Pak RT akan merembuknya dengan beberapa warga komplek Bhineka dan akan membicarakan solusi yang baik.

Sifat dan Perubahan Wujud Benda